← Kembali ke BlogIlustrasi artikel: Akuntansi untuk Bisnis Kontraktor dan Jasa Proyek: Mencatat Termin, Retensi, dan Uang Muka

Ilustrasi AI

Operasional

Akuntansi untuk Bisnis Kontraktor dan Jasa Proyek: Mencatat Termin, Retensi, dan Uang Muka

Rekana27 Agustus 20266 menit baca
Bagikan

Kenapa Arus Kas Bisnis Proyek Berbeda

Untuk usaha dagang, siklus kasnya gampang dibaca. Barang keluar, uang masuk, selesai. Bisnis kontraktor dan jasa proyek bermain di lapangan yang sama sekali lain. Sebuah proyek bisa berjalan berbulan-bulan, bahkan bertahun, sementara pendapatannya baru cair sepotong demi sepotong seiring kemajuan pekerjaan. Uang tidak datang begitu kontrak diteken. Ia menyusul lewat termin, dipotong retensi, dan kadang diawali uang muka.

Akibatnya, laba di atas kertas belum tentu sejalan dengan uang di rekening. Anda bisa saja mencatat proyek yang menguntungkan, tetapi kas justru menipis karena tagihan termin belum cair atau ada nilai yang ditahan pemberi kerja. Di sinilah kemampuan memisahkan pengakuan pendapatan dari penerimaan kas jadi keterampilan wajib. Bagi kontraktor, memahami perbedaan cash basis vs akrual bukan sekadar teori, melainkan penentu apakah laporan Anda benar-benar menggambarkan kondisi bisnis.

Mencatat Pembayaran Termin Bertahap

Termin adalah pembayaran bertahap sesuai progres pekerjaan yang disepakati dalam kontrak. Ambil contoh proyek renovasi senilai Rp500 juta yang dibagi menjadi empat termin: 25% saat progres mencapai seperempat, dan seterusnya. Setiap kali satu termin ditagihkan, Anda menerbitkan invoice dan mencatat piutang usaha sebesar nilai termin itu, dengan lawan akun pendapatan proyek bila memakai basis akrual sesuai progres.

Mari lihat jurnalnya. Saat menagih termin pertama Rp125 juta, Anda mendebit Piutang Usaha Rp125 juta dan mengkredit Pendapatan Proyek Rp125 juta. Baru ketika pembayaran benar-benar masuk rekening, Anda mencatat debit Kas/Bank dan kredit Piutang Usaha. Pemisahan dua momen ini yang sering luput: momen pengakuan pendapatan dan momen penerimaan uang tidak selalu berbarengan. Supaya tagihan termin tidak tercecer dan cepat cair, penerbitan invoice yang rapi seperti dibahas di tips membuat invoice yang cepat dibayar sangat membantu ritme kas proyek.

Retensi: Piutang yang Ditahan Sampai Masa Pemeliharaan

Retensi adalah potongan sekian persen, umumnya sekitar 5%, dari nilai tagihan yang ditahan pemberi kerja sebagai jaminan mutu pekerjaan. Uang ini baru dilepas setelah masa pemeliharaan berakhir tanpa cacat, biasanya beberapa bulan setelah serah terima. Kesalahan yang sering terjadi pada kontraktor kecil adalah menganggap retensi sebagai pendapatan yang hilang. Padahal itu tetap hak Anda yang cuma tertahan sementara.

Cara mencatatnya begini: pendapatan tetap diakui penuh, tetapi bagian yang ditahan dipindahkan ke akun tersendiri, misalnya "Piutang Retensi". Dari contoh termin Rp125 juta dengan retensi 5%, Anda menerima kas Rp118,75 juta dan mencatat Piutang Retensi Rp6,25 juta. Jurnalnya: debit Kas Rp118,75 juta, debit Piutang Retensi Rp6,25 juta, kredit Piutang Usaha Rp125 juta. Dengan akun terpisah begini, Anda punya gambaran jelas berapa total dana yang masih 'menggantung' di berbagai proyek. Pengelolaan yang cermat atas pos ini sejalan dengan prinsip manajemen piutang usaha. Retensi pun perlu ditagih dan dipantau, bukan dilupakan begitu proyek rampung.

Uang Muka dan Aspek Perpajakan KSO

Uang muka proyek adalah pembayaran di awal sebelum pekerjaan dimulai, sering dipakai untuk membeli material. Secara akuntansi, uang muka yang masuk belum boleh diakui sebagai pendapatan karena pekerjaan belum dikerjakan. Catat sebagai kewajiban, misalnya "Uang Muka Proyek Diterima", lalu kurangi bertahap seiring pengakuan pendapatan atau saat dipotong dari termin berikutnya. Dengan begitu, neraca Anda tidak menggelembung oleh pendapatan semu yang sebenarnya masih berupa titipan.

Sisi pajak juga menuntut perhatian. Untuk menggarap proyek besar, kontraktor kerap membentuk Kerja Sama Operasi (KSO) bersama pihak lain. PMK 79/2024 memperjelas perlakuan perpajakan atas KSO, antara lain menegaskan kondisi ketika KSO wajib mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP tersendiri, plus kewajiban pemotongan dan pelaporan yang menyertainya. Karena aturannya cukup teknis, ada baiknya Anda menyesuaikan struktur pencatatan sejak awal kerja sama dibentuk agar tidak berbenturan saat pelaporan.

Perlu diingat pula, jasa konstruksi umumnya dikenai pemotongan pajak bersifat final oleh pemberi kerja. Pastikan Anda paham mekanismenya, misalnya lewat pembahasan PPh Pasal 4 Ayat 2 yang relevan untuk sebagian jasa konstruksi. Mencatat setiap bukti potong dengan benar akan menghemat banyak repot saat pelaporan pajak tahunan, sebab angka yang sudah dipotong itu bisa Anda perhitungkan dengan tepat.

Pengakuan Pendapatan: Metode Persentase Penyelesaian Sederhana

Karena proyek melintasi beberapa periode, pendapatan idealnya diakui sesuai kemajuan pekerjaan, bukan menunggu proyek rampung 100%. Metode persentase penyelesaian (percentage of completion) menghitung porsi pendapatan yang diakui berdasarkan tingkat penyelesaian. Cara paling sederhana untuk UMKM adalah membandingkan biaya yang sudah dikeluarkan dengan total estimasi biaya proyek.

Contohnya, proyek dengan nilai kontrak Rp500 juta dan estimasi total biaya Rp400 juta. Bila sampai akhir bulan sudah keluar biaya Rp200 juta, artinya penyelesaian 50% (Rp200 juta dibagi Rp400 juta). Pendapatan yang diakui adalah 50% dari Rp500 juta, yaitu Rp250 juta, terlepas dari berapa termin yang sudah cair. Selisih antara pendapatan yang diakui dan yang sudah ditagih akan muncul sebagai tagihan bruto (jika pengakuan melampaui tagihan) atau kewajiban di neraca (jika tagihan melampaui pengakuan).

Metode ini menuntut estimasi biaya yang realistis dan pencatatan biaya per proyek yang disiplin. Di titik inilah pembukuan yang tertata otomatis seperti di rekana membantu Anda melacak biaya tiap proyek tanpa mengaduk-aduk banyak spreadsheet terpisah, sehingga persentase penyelesaian bisa dihitung kapan saja dengan data yang segar.

Mengelola Risiko Keterlambatan Pencairan Termin

Ancaman terbesar bagi kontraktor bukanlah proyek yang rugi, melainkan proyek untung yang kehabisan napas karena termin telat cair. Anda tetap harus membayar tukang, membeli material, dan menutup biaya operasional meski uang dari pemberi kerja belum masuk. Tanpa perencanaan, jeda seperti ini bisa mematikan usaha yang sebenarnya sehat.

Kuncinya ada pada proyeksi kas yang memetakan kapan setiap termin diharapkan cair dan kapan pengeluaran jatuh tempo. Susun jadwal penerimaan termin bulan demi bulan, lalu bandingkan dengan kebutuhan belanja. Bila ada bulan yang defisit, siapkan strategi sejak dini: negosiasi tempo dengan supplier atau menyiapkan fasilitas modal kerja. Praktik menyusun proyeksi arus kas menjadi alat bertahan hidup, bukan sekadar dokumen formalitas. Untuk kontraktor yang menjalankan beberapa proyek sekaligus, pemetaan ini sebaiknya dibuat per proyek lalu dikonsolidasikan di tingkat perusahaan.

Menyiapkan Laporan Keuangan Proyek untuk Klien atau Tender

Kontraktor yang ingin naik kelas hampir pasti berhadapan dengan tender atau pengadaan yang mensyaratkan laporan keuangan. Panitia ingin memastikan Anda punya kapasitas finansial untuk menyelesaikan proyek. Laporan yang menampilkan laba per proyek, posisi piutang termin dan retensi, serta arus kas yang sehat akan memperkuat posisi Anda. Persiapan dokumen semacam ini dibahas lebih lengkap di panduan menyusun laporan keuangan untuk ikut tender.

Di luar urusan tender, laporan per proyek berguna sebagai alat evaluasi internal: proyek mana yang benar-benar menguntungkan setelah semua biaya dihitung, dan mana yang cuma ramai di omzet tapi tipis marginnya. Dengan struktur akun yang memisahkan pendapatan, biaya, piutang retensi, dan uang muka per proyek, Anda bisa membaca kinerja tiap pekerjaan secara jujur. Inilah yang membedakan kontraktor yang tumbuh terkendali dari yang sekadar sibuk mengejar proyek baru untuk menambal proyek lama.

Mulai dari Pencatatan yang Rapi

Akuntansi kontraktor memang lebih berlapis dibanding usaha dagang biasa. Ada termin, retensi, uang muka, dan pengakuan pendapatan bertahap yang harus dijaga konsistensinya. Tapi begitu strukturnya terbentuk, semuanya berubah jadi rutinitas yang bisa dikelola. Bila pencatatan proyek Anda mulai terasa rumit atau Anda ragu apakah laporan sudah menggambarkan kondisi sebenarnya, mungkin ini saatnya menata ulang sistem. Anda bisa merapikan pembukuan proyek sendiri lebih dulu, atau berbincang dengan tim rekana lewat jasa Review & Analisa Laporan Keuangan untuk memastikan angka termin, retensi, dan pengakuan pendapatan sudah dicatat konsisten. Yang terpenting, mulailah mencatat setiap termin dan retensi dengan tertib sejak proyek pertama. Kebiasaan itulah yang akan menopang bisnis Anda saat proyek makin banyak dan makin besar.

Ingin pembukuan bisnis Anda tercatat rapi tiap hari?

Client Portal rekana menyatukan pencatatan transaksi, laporan, dan komunikasi dengan akuntan Anda di satu tempat.