← Kembali ke BlogIlustrasi artikel: Amortisasi Aset Tak Berwujud: Software, Lisensi, dan Hak Cipta dalam Pembukuan UMKM

Ilustrasi AI

Dasar Akuntansi

Amortisasi Aset Tak Berwujud: Software, Lisensi, dan Hak Cipta dalam Pembukuan UMKM

Rekana8 Agustus 20266 menit baca
Bagikan

Kalau Anda pernah membaca soal penyusutan aset tetap, Anda mungkin sudah paham satu prinsipnya: mesin, kendaraan, atau komputer tidak boleh dibebankan sekaligus sebagai biaya, melainkan disebar selama masa manfaatnya. Ada satu jenis aset yang jauh lebih sering luput, terutama di kalangan UMKM digital. Namanya aset tak berwujud. Software akuntansi berlisensi, lisensi merek, sistem ERP dengan hak pakai permanen, hak cipta konten, sampai paten sederhana semuanya punya nilai ekonomis lebih dari satu tahun. Sayangnya, jarang dicatat dengan benar.

Artikel ini melengkapi pembahasan sebelumnya tentang penyusutan aset tetap, kali ini dengan fokus pada amortisasi aset tak berwujud. Kita akan lihat apa saja yang tergolong aset tak berwujud, bedanya dengan penyusutan, cara menentukan masa manfaat, dampaknya ke laporan keuangan, sampai contoh perhitungan yang mudah diikuti.

Apa Itu Aset Tak Berwujud dan Contohnya di UMKM

Aset tak berwujud adalah aset yang tidak berwujud fisik namun memberi manfaat ekonomi bagi usaha selama lebih dari satu tahun. Berbeda dari mesin atau gedung yang bisa Anda pegang, aset ini biasanya berupa hak atau lisensi. Tak kelihatan, tetapi nilainya nyata dan sering dibeli dengan pengeluaran yang tidak kecil.

Di dunia UMKM, contohnya lebih banyak dari yang Anda kira. Ada software akuntansi atau ERP yang dibeli dengan lisensi permanen (bukan langganan bulanan), lisensi penggunaan merek dari pemilik waralaba, hak cipta atas konten, desain, atau kursus digital yang Anda produksi, hak paten atas produk, sampai biaya pendaftaran merek dagang yang memberi manfaat jangka panjang. Pemilik toko online, agensi kreatif, dan penyedia jasa berbasis aplikasi paling sering berhadapan dengan aset jenis ini.

Ada garis pemisah yang perlu ditarik. Langganan software bulanan atau tahunan yang habis pakai, misalnya biaya cloud yang dibayar tiap bulan, umumnya langsung dibebankan sebagai biaya operasional periode berjalan. Yang tergolong aset tak berwujud adalah pengeluaran untuk hak atau lisensi yang manfaatnya melampaui satu periode akuntansi. Di sinilah amortisasi berperan.

Perbedaan Amortisasi dan Penyusutan

Secara konsep, amortisasi dan penyusutan sama-sama menyebar biaya perolehan aset selama masa manfaatnya. Bedanya ada pada objeknya. Penyusutan (depresiasi) diterapkan pada harta berwujud seperti mesin, kendaraan, dan bangunan. Amortisasi diterapkan pada harta tak berwujud seperti software, lisensi, dan hak cipta. Tujuannya sama: mencocokkan biaya dengan manfaat yang dinikmati usaha dari tahun ke tahun.

Dari sisi pajak, aturannya kini disatukan dalam PMK Nomor 72 Tahun 2023 tentang Penyusutan Harta Berwujud dan/atau Amortisasi Harta Tak Berwujud, yang terbit 17 Juli 2023 sebagai pelaksana UU HPP. PMK-72/2023 mencabut sejumlah aturan lama, antara lain PMK-96/PMK.03/2009, PMK-248/PMK.03/2008, dan PMK-249/PMK.03/2008. Hasilnya, ada kepastian hukum yang lebih jelas, termasuk soal amortisasi harta tak berwujud yang bermasa manfaat lebih dari satu tahun dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, serta memelihara (3M) penghasilan.

Amortisasi fiskal dimulai pada bulan pengeluaran dilakukan, kecuali untuk bidang usaha tertentu. Pengelompokan masa manfaatnya mengikuti pola yang sama dengan harta berwujud, dan metode yang bisa dipilih adalah garis lurus atau saldo menurun. Poin ini penting. Banyak pemilik usaha mengira aset tak berwujud punya aturan yang sepenuhnya terpisah, padahal kerangkanya berdampingan dengan aset berwujud.

Cara Menentukan Masa Manfaat Lisensi dan Software

Dalam kerangka PMK-72/2023, harta tak berwujud dibagi ke empat kelompok masa manfaat: kelompok 1 selama 4 tahun, kelompok 2 selama 8 tahun, kelompok 3 selama 16 tahun, dan kelompok 4 selama 20 tahun. Anda menempatkan aset ke kelompok yang paling cocok dengan perkiraan masa manfaat ekonomisnya. Software bisnis dan lisensi yang manfaatnya hanya beberapa tahun umumnya masuk kelompok dengan masa manfaat lebih pendek.

Ada ketentuan yang cukup menarik untuk aset dengan masa manfaat sangat panjang. Untuk software, lisensi, atau hak cipta yang masa manfaatnya lebih dari 20 tahun, wajib pajak boleh memilih memakai masa manfaat 20 tahun atau masa manfaat sebenarnya sesuai pembukuan (Pasal 9 ayat 4). Pilihan ini bahkan berlaku surut sejak Tahun Pajak 2022, dengan pemberitahuan ke DJP yang batasnya sudah lewat (30 April 2024). Jadi konteksnya berguna untuk memahami logika aturan, bukan lagi sebagai langkah baru yang bisa diajukan sekarang.

Untuk pembukuan komersial, Anda tidak wajib mengikuti kelompok fiskal secara kaku. Yang penting estimasi masa manfaatnya masuk akal dan diterapkan konsisten. Contohnya, software akuntansi berlisensi permanen yang realistis dipakai 4 sampai 5 tahun sebelum diganti versi baru bisa Anda amortisasi selama periode itu. Kuncinya ada dua: mendokumentasikan asumsi masa manfaat, dan menjaga konsistensi metode antar tahun.

Dampak ke Laporan Laba Rugi dan Neraca

Amortisasi memengaruhi dua laporan sekaligus. Di laporan laba rugi, beban amortisasi muncul setiap periode dan mengurangi laba usaha. Karena disebar bertahap, laba Anda tidak anjlok drastis di tahun pembelian aset, sehingga gambaran kinerja lebih wajar. Bandingkan kalau seluruh biaya software mahal dibebankan sekaligus: laba tahun itu bisa terlihat rugi, padahal manfaat asetnya masih dinikmati bertahun-tahun ke depan.

Di neraca, aset tak berwujud dicatat sebesar nilai perolehan lalu dikurangi akumulasi amortisasi, sehingga nilai bukunya menyusut dari waktu ke waktu hingga mendekati nol di akhir masa manfaat. Pencatatan serapi ini penting ketika laporan keuangan Anda dibaca pihak luar, misalnya bank atau calon investor yang ingin menilai aset dan profitabilitas usaha secara adil.

Tantangan praktisnya justru di sini. Menghitung amortisasi manual tiap bulan sambil mengurus pembukuan harian gampang terlewat, apalagi kalau aset tak berwujudnya beberapa dan masuk di bulan yang berbeda. Mencatat jadwal amortisasi secara otomatis dan konsisten adalah salah satu hal yang bisa dibantu platform pembukuan seperti rekana, sehingga beban amortisasi tetap terhitung tiap periode tanpa perlu Anda ingat-ingat manual. Bila laporan Anda perlu dinilai lebih dalam sebelum diajukan ke bank, review analisa laporan keuangan sebelum ajukan kredit bisa jadi langkah lanjutan.

Satu catatan lagi. UMKM yang memakai PPh Final skema PP-23 umumnya tidak perlu menghitung amortisasi fiskal, karena pajaknya dihitung dari omzet, bukan dari laba bersih. Namun secara akuntansi komersial, pencatatan amortisasi tetap dianjurkan, misalnya dengan metode garis lurus, agar laporan keuangan Anda akurat. Ini terutama berguna jika suatu saat Anda beralih ke rezim pembukuan (PPh normal) atau membutuhkan laporan untuk pinjaman dan investor. Pertimbangan kapan sebaiknya beralih skema kami bahas terpisah di PPh Final vs PPh Badan.

Contoh Perhitungan Sederhana

Misalkan UMKM Anda membeli lisensi permanen software ERP seharga Rp48.000.000 pada Januari tahun berjalan. Anda memperkirakan masa manfaatnya 4 tahun (kelompok 1) dan memilih metode garis lurus. Beban amortisasi per tahun dihitung dari Rp48.000.000 dibagi 4 tahun, hasilnya Rp12.000.000 per tahun, atau sekitar Rp1.000.000 per bulan.

Maka di tahun pertama, laporan laba rugi memuat beban amortisasi Rp12.000.000, bukan Rp48.000.000 sekaligus. Di neraca akhir tahun pertama, aset dicatat Rp48.000.000 dikurangi akumulasi amortisasi Rp12.000.000, sehingga nilai bukunya Rp36.000.000. Tahun kedua nilai buku turun jadi Rp24.000.000, tahun ketiga Rp12.000.000, dan di akhir tahun keempat nilai bukunya nol, pas dengan berakhirnya masa manfaat.

Jurnalnya sederhana. Saat pembelian, Anda mendebit akun 'Aset Tak Berwujud — Software' dan mengkredit Kas/Bank sebesar Rp48.000.000. Lalu tiap akhir bulan atau akhir tahun, Anda mendebit 'Beban Amortisasi' dan mengkredit 'Akumulasi Amortisasi Software' sebesar porsinya. Pola yang sama berlaku untuk lisensi merek atau hak cipta, cukup sesuaikan nilai perolehan dan masa manfaatnya.

Penutup

Aset tak berwujud sering luput justru karena tak terlihat, padahal nilainya bisa besar dan berpengaruh nyata pada laba maupun neraca. Begitu Anda mengenali mana yang tergolong aset tak berwujud, menetapkan masa manfaat yang wajar, lalu mengamortisasinya secara konsisten, laporan keuangan usaha Anda akan lebih mencerminkan kondisi sebenarnya, bukan naik-turun tajam hanya karena satu pembelian besar.

Kalau pencatatan software, lisensi, dan hak cipta di pembukuan Anda masih berantakan atau belum pernah diamortisasi sama sekali, merapikannya dari sekarang jauh lebih ringan ketimbang membenahi tumpukan tahun-tahun sebelumnya. Anda bisa mulai menata jadwal amortisasi lewat rekana, atau mengajak tim kami berdiskusi untuk memastikan pencatatan aset tak berwujud Anda sudah rapi sebelum laporan keuangan dipakai untuk keperluan pajak, pengajuan pinjaman, maupun evaluasi usaha.

Punya bisnis di bidang umkm & usaha mikro?

Lihat bagaimana rekana membantu pembukuan dan laporan keuangan khusus untuk umkm & usaha mikro.